Just another WordPress.com site

Makalah Ulumul Hadits

MAKALAH

PENGERTIAN DAN SEJARAH ILMU HADITS

SERTA PERKEMBANGAN ILMU HADITS

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ulumul Hadits

Bpk. Iman Fadhilah, M.Si

Di susun oleh :

1.     Ahmad Taqiyudin

2.     Zaenal Abidin

3.     Rozikun

4.     Iffatul Lathifatil Anisah

5.     Durotun Nasihah

PENGERTIAN DAN SEJARAH ILMU HADITS

SERTA PERKEMBANGAN ILMU HADITS

A. Pendahuluan

Tak dapat dipungkiri, hadits merupakan salah satu dari sumber hukum islam kedua setelah al qur’an yang kita gunakan selama ini. Dalam perjalanannya, hadits disusun dan diolah melalui disiplin ilmu tertentu yang disebut dengan ulumul hadits.

Banyak juga ulama yang mempelopori dan mengembangkan ilmu ini sebagai acuan dalam menyusun dan menyempurnakan pengklasifikasian hadits sebagai pedoman hukum umat islam setelah al qur’an. Salah satunya Al Bukhary yang menyusun kitab riwayat ringkas para sahabat.

B. Rumusan Masalah

Kebanyakan dari kita hanya mengetahui hadits diriwayatkan, dibaca dan hanya dikaji saja. Namun kita belum pernah mengetahui sejarah dan apa sajakah ilmu – ilmu hadits itu. Baik pengertian (definisi), ulama yang mempelopori, dan kegunaan serta peran dari ilmu itu sendiri.

Berangkat dari hal tersebut diatas, semoga dengan makalah yang sederhana ini dapat menambah sedikit pengetahuan kita tentang pengertian dan sejarah ilmu hadits serta perkembangannya.

C. Pembahasan

1.      Pengertian ilmu hadits dan pembagiannya

Ilmu hadits menurut Prof. Dr. T.M Hasbi Ash Shiddieqy adalah ilmu yang berkaitan dengan hadist[1]. Ilmu hadits dapat dibagi menjadi 2 bagian :

a.       Hadits Riwayah

Menurut bahasa riwayah berasal dari kata rawa-yarwi-riwayatan yang berarti annaql = memindahkan dan penukilan.

Sedangkan ilmu hadits riwayah menurut istilah sebagaimana pendapat Dr. Subhi Asshalih adalah :

” ilmu hadits riwayah adalah ilmu yang mempelajari tentang periwayatan secara teliti dan berhati-hati bagi segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan dan sifat serta segala segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabiin ” (Subhi Asshalih, Ulumul Hadits…hal. 107)

Adapun menurut sebagian ulama adalah :

عِلْمُ الْحَدِيْثُ رِوَايَةَ : عِلْمُ يُبْحَثُ فِيْهِ عَنْ كَيْفِيَّةِ ِاتِّصَالِ الْحَدِيْثِ باِلرَّسُوْلِ ص.م مِنْ حَيْثُ اَحْوَالِ رُوَاتِهِ ضَبْطًا وَعَدَالَةً وَمِنْ حَيْثُ كَيْفِيَّةِ السَّنَدِ اِتِّصَالاً وَانْقِطَاعًا وَنَحْوَ ذَلِكَ.

Artinya :

“Ilmu hadits riwayah ialah ilmu yang membahas cara kelakuan persambungan hadits kepada shohibur risalah, junjungan kita Muhammad SAW dari sikap para perowinya, mengenai kekuatan hafalan dan keadilan mereka, dan dari segi keadaan sanad, putus dan kesambungannya dan yang sepertinya.”[2]

Pendiri Ilmu Hadits Riwayah adalah Muhammad bin Syihab Azzuhri (w. 124 H). Obyek dari hadits riwayah ini adalah pribadi Nabi Muhammad SAW yaitu, perkataan, perbuatan, taqrir dan sifatnya.

b.      Hadits Dirayah

Ilmu Hadits Dirayah, menurut bahasa dirayah berasal dari kata dara-yadri-daryan yang berarti pengetahuan. Maka seringkali kita mendengar Ilmu Hadits Dirayah Disebut-sebut sebagai pengetahuan tentang ilmu Hadits atau pengantar ilmu hadits.

Menurut imam Assyuthi, Ilmu Hadits Dirayah adalah ” ilmu yang mempelajari tentang hakikat periwayatan, syarat-syaratnya, macam-macamnya dan hukum-hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, macam-macam periwayatan, dan hal-hal yang berkaitan dengannya”.

Adapun menurut sebagian ulama, hadits diroyah adalah :

عِلْمٌ الْحَدِيْثِ دِرَايَةً : عِلْمُ يُبْحَثُ فِيْهِ عَنِ الْمَعْنَى الْمَفْهُوْمِ مِنْ اَلْفَاظِ الْحَدِيْثِ وَالْمُرَادِ مِنْهَا مَبْنِيًّا عَلَى قَوَاِعدِ الُّلغَةِ الْعَرَبِيَّةِ وَضَوَابِطِ الشَّرِيْعَةِ وَمُطَابِقًا ِلاَحْوَلِ النَّبِيِّ ص.م.

Artinya :

“Ilmu hadits diroyah adalah ilmu yang membahas makna – makna yang difahamkan dari lafal – lafal hadits yang dikehendaki dari sesuatu lafal dan kalimat dengan bersandar kepada aturan – aturan (kaidah – kaidah) bahasa arab dan kaidah – kaidah agama dan sesuai dengan keadaan Nabi SAW.”[3]

Ilmu Hadits Dirayah kajiannya pada pengetahuan hadits apakah telah memenuhi persyaratan sebagai hadits yang diterima atau ditolak.

Ilmu Hadits Dirayah dikenal juga dengan istilah Ulumul Hadits, Ushul Hadits, Ushul Arriwayah dan Musthalah Hadits. Namun, masing-masing nama tersebut mempunyai Filsafat makna yang berkaitan.

Pendiri Ilmu Hadits Dirayah adalah Al-Qadhi Abu Muhammad Al-Hasan bin Abdurahman bin Khalad Ramahumuzi (w.360 H).

Obyek dari ilmu hadits diroyah adalah mengetahui segala yang berpautan dengan pribadi nabi, agar kita dapat mengetahuinya dan memperoleh kemenagan dunia akhirat.

2.      Sejarah ilmu hadits

Orang yang melakukan kajian secara mendalam mendapati bahwa dasar-dasar dan pokok-pokok penting bagi ilmu riwayah dan menyampaikan bertita dijumpai didalam Al Quran dan Sunnah Nabi. Allah Swt berfirman :

يآأيهاالذين أمنوا إن جآءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين

Artinya : “Hai oarang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti” (Qs Al Hujrat 6)

Sedangkan didalam sunnah Rasulullah Saw:

Artinya : “Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu berita, yaitu hadist lalu ia menyampaikan berita itu sebagaimana yang didengar dan mungkin saja orang yang menerima berita itu lebih faham dari orang yang mendengar. (H.r At Tirmidzy)

Dalam uapaya melaksanakan perintah Allah dan Rasul nya para sahabat telah menetapkan hal-hal yang menyangkut penyampaian suatu berita dan penerimaannya, terutama jika mereka meragukan kejujuran si pembawa berita . berdasarkan hal itu, tampak nilai dan pembahasan mengenai isnad dalam menerima dan menolak suatu berita.

Didalam pendahuluan kitab Shahih Muslim, dituturkan dari Ibnu Sirin, “dikatakan, pada awalnya mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad, namun setelah terjadi peristiwa fitnah maka mereka berkata, “sebutkanlah pada kami orang-orang yang meriwayatkan hadist kepadamu”.

Apabila orang-orang yang meriwayatkan hadist itu adalah ahlu sunnah, maka mereka ambil hadistnya . jika orang-orang yang meriwayatkan hadistitu adalah ahli bidah maka mereka tidak mengambilnya.

Berdasarkan hal ini, maka suatau berita tidak bisa diterima kecuali setelah diketahui sanadnya. Karena itu muncullah ilmu jarah wa ta’dil, ilmu mengenai ucapan para perawi, cara untuk mengetahui bersambung (Muttasil) atau terputus (munqati)-nya sanad, mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. Mmuncul pula ucapan-ucapan sebagai tambahan dari hadist sebagian perawi meskipun sangat sedikit karena masih sedikitnya para perawi yang tercela pada masa-masa awal. Kemudian para ulama dalam bidang itu semakin banyak, sehinggga muncul berbagai pembahasaan didalam banayak cabang ilmu yang terkait denag hadist, baik dari aspek kedhabitannya, tata cara menerima dan menyampaikannnya, pengetahuan tentang hadist-hadist yang nasikh dari hadist-hadist yang mansukh dll. Semua itu masih disampaikan ulama secara lisan

Lalu masalah itu pun semakin berkembang lam kelamaan ilmu hadist ini mulai ditulis dan dibukukan, akan tetapi masih terserap diberbagai tempat didalam kitab-kitab lain yang bercampur dengan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu ushul fiqih dan ilmu hadist contohnya ilmu Ar Risalah dan Al Umm Imam Syafi’I.

Ilmu hadist mengalami perkembangan yang sanagat luart biasa pada awal abad ke tiga hijriyyah. Hanya saja, perkembangan itu masih berkutat pada upaya mengatahui yang bisa diterima dan ditolak karenanya pembahasan seputar periwayatan dan hadist yang diriwayatkan. Menurut sejarah ulama yang pertama-tama menghimpun ilmu hadist riwayat adalah Muhammad Ibnu Shihab Al Juhri atas perintah dari khalifah Umar bin Abdul Aziz. Al Zuhri adalah salah satu seorang tabiin kecil yang banayak mendengar hadist dari para sahabat dan tabi’in besar.

Sedangkan ilmu hadist dirayah sejak pertengahan abad kedua Hijriyyah telah dibahas oleh para ulama hadist, tetapi belum dalam bentuk kitab khusus dan belum merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Pada masa Al Qadhi Ibnu Muhammad Al Ramahurmudzi (265-360 H), barulah kemudian dibukukan dalam kitab khusus yang dijadikan sebagai disiplin ilmu yang berdidri sendiri.

Setelah itu barulah diikuti oleh ulama-ulama berikutnya seperti Al Hakim Abdul Al Naysaburi dll. Pada masa ulama konten porer ilmu hadist dirayah dinamakan dengan Ulumul Hadist dan pada masa terakhir ini lebih mashur. Akhirnya ilmu-ilmu itu semakin matang , mencapai puncaknya dan memiliki istilah sendiri yang terpisah dengan ilmu-ilmu lainnya. Hal ini terjadi pada abad ke empat Hijriyyah para ulama menyusun ilmu msthalah dalam kitab tersendiri, orang yang pertama menyusun kitab ini adalah Qadli Abu Al Fasih Baina Ar Rawi wa Al-wa’i.[4]

3.      Cabang – cabang ilmu hadits

Cabang-cabang ilmu hadsit dikelompokan menjadi beberapa hal sebagai berikut :

1.   Ilmu Rijal Al Hadist

Ilmu untuk mengetahui para perawi hadist dalam kapasitas mereka sebagai perawi hadist ilmu ini sangat penting kedudukannya dalam bidang ilmu hadist, karena pada saat ini ada dua yaitu matan dan sanad. Ilmu Rijal Al Hadist memberikan pengertian kepada persoalan khusus persoalan seputar sanad

2.   Ilmu Al Jarah wa Ta’dil

Ilmu yang membahas kecacatan rawi, seperti keadilan dan kedhabitannya. Sehingga dapat ditentukan siapa diantara perawi itu yang dapat diterima atau ditolak hadsit yang diriwayatkannya. Ilmu jarah wa ta’dil ini dikelompokan oleh sebagian ulama kedalam ilmu hadist yang pokok pembahasannya berpangkal kepada sanad dan matan

3.   Ilmu Tarikh Ruwat

Ilmu untuk mengetahui para pwrawi hadist yangberkaitan dengan usaha periwayatan mereka terhadap hadist. Ilmu ini mengkhususkan pembahasannya secara mendalam pada aspek kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan

4.   Ilmu Ilalil Hadist

Ilmu yang membahas sebab-sebab yang tersembunyi yang mencacatkan keshahihan hadist, seperti mengatakan muttasil terhadap hadist munqati menyebat hadist marfu kepada hadsit mauquf.

5.   Ilmu Nasikh wa Mansukh

Ilmu yang membahas hadist-hadist yang berlawanan yang tidak dapat dipertemukan dengan cara menentukan sebagiannya sebagai nasikh dan sebagian lainnya sebagai mansukh, bahwa yang datang terdahulu disebut Mansukh dan yang datang dinamakan nasikh.

6.   Ilmu Asbabi Wurudil Hadis

Ilmu yang menerangkan sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya nabi menuturkan itu. Ulama yang mula-mula meyusun kitab ini adalah Abu Hafash Umar ibnu Muhammad Ibnu Rajak Al Ukbary, dari murid Ahmad

7.   Ilmu Ghraib Al Hadist

Ilmu untuk mengetahui dan menerangkan makna yang terdapat pada lafad-lafad hadist yang jauh dan sulit dipahami, karena lapad-lapd tersebutjarang digunakan.

Sesudah berlalu masa sahabat, yakni abad pertama dan para tabi’in pada tahun 150 H. mulailah bahasa arab yang tinggi tidak diketahui lagi umum. Satu-satu orang saja lago yang mengetahuinya. Oleh karena itu, berusahalah para ahli mengumpul kata-kata yang dipandang tidak dapat dipahamkan oleh umum dan kata-kata yang kurang terpakai dalam pergaulan sehari-hari dalam sesuatu kitab dan mengsarahkannya.

8.   Ilmu Al Tashif

Ilmu pengetahuan yang berusaha menanamkan tentang hadist-hadist yang sudah diubah titik atau sakalnya atau bentuknya.

9.   Ilmu Muktalif Al Hadist

Ilmu yang membahas hadist-hadist yang menurut lainnya bertentangan atau berlawanan, kemudian ia menghilangkan pertentangan tersebut atau mengompromi-kan antara keduanya, sebagaimana juga ia membahas tentang hadist-hadist yang sulit difahami isi atau kandungannya dengan cara menghilangkan kemusykilan atau kesulitannya serta menjelaska hakikatnya

10. Ilmu Talfiqiel Hadist

Ilmu yang membahaskan tentang cara mengumpulkan antara hadist-hadist yang berlawanan lahirnya

Dikumpulkan itu adakalanya dengan mentahkhisiskan yang Am atau mentaqyidkan yang mutlak atau dengan memandang banyak kali terjadi.

Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadist diantara para ulama besar yang telah berusaha menuyusun ilmu ini ialah Al Imamusy Syafi’i, Ibnu Qutaibah, Ibnul Jauzy kitabnya bernama At Tahqiq sudah disarahkan oleh Ustad Ahmad Muhammad Syakir[5]

D. Kesimpulan

Hadits sebagai sumber hukum kedua umat islam telah disusun sedemikian rupa oleh ulama – ulama terdahulu dengan displin ilmu yang sesuai dengan perannya masing – masing. Dengan adanya ilmu tersebut, kita dapat mempelajari dan lebih mudah memahami hadits serta dapat menggunakan hadits dengan lebih maksimal sebagai sumber hukum.

E. Penutup

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat taufiq hidayah dan inayah Nya sehingga makalah sederhana ini dapat terselesaikan dengan baik. Penyusun berharap semoga makalah ini dapt bermanfaat bagi pembaca yang budiman. Sebagai penyusun, kami juga menanti saran dan kritik yang membangun demi lebih sempurnanya makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Departemen Agama. 1993. Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Surya Cipta Aksara

Ash Shiddieqy, Hasbi TM. 1999. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra

Makalah

Zakaria, Ikbal. 2009. Sejarah Ilmu Hadits. Jakarta: -


[1] Ikbal Zakaria, Sejarah Ilmu Hadits, Jakarta, hlm 1

[2] TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Semarang, PT Pustaka Rizki Putra. 1999. hlm128

[3] Ibid. hlm 129

[4] Ikbal Zakaria, Ibid. hlm 4

[5] TM. Hasbi Ash Ahiddieqy, Ibid. hlm 131

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.