Just another WordPress.com site

Terbaru

Ulangan TKJ 2

SOAL ULANGAN PRODUKTIF

PROGDI TEKNIK KOMPUTER JARINGAN

SMK PEMBANGUNAN MRANGGEN

TAHUN PELAJARAN 2011/2012

  1. A.     Pilihlah jawaban yang paling tepat !
    1. Keilmuan K3 merupakan multidisiplin ilmu, kecuali….
      1. Ilmu kesehatan
      2. Ilmu perilaku
      3. Ilmu alam
      4. Ilmu teknologi
      5. Ilmu keamanan
    2. Tujuan awal dari pendirian standar keselamatan dan kesehatan di tempat kerja yang benar adalah ….
      1. Social, moral, budaya
      2. Ekonomi, social, legal
      3. Legal, ekonomi, lingkungan
      4. Ekonomi, legal, moral
      5. Lingkungan, moral, legal
    3. Apakah kepanjangan dari OSH itu ….
      1. Occupational safety and health
      2. Occupation safety and heal
      3. Occupation safety and health
      4. Occupational safy and health
      5. Semua benar
    4. OSH ditandatangi oleh presiden M. Nixon pada tahun ….
      1. 1971
      2. 1975
      3. 1970
      4. 1978
      5. 1972
    5. Penyebab kurangnya tingkat produktif yang terjadi di perusahaan yaitu ….
      1. Kejadian tidak terduga
      2. Kondisi kerja rawan kecelakaan
      3. Kebiasaan perilaku karyawan yang dapat menimbulkan kecelakaan atau penyakit
      4. Factor keterbatasan manusia
      5. Semua jawaban benar
    6. Pada posisi kerja yang benar, lutut ketika duduk membentuk sudut ….
      1. 300
      2. 500
      3. 900
      4. 1500
      5. 1800
    7. Di bawah ini adalah standar ruang kerja yang baik, kecuali….
      1. Aman dan nyaman
      2. Rapi dan bersih
      3. Pencahayaan yang cukup
      4. Gaduh dan berantakan
      5. Sirkulasi udara yang cukup
    8. Keadaan temperatur yang normal untuk bekerja dengan baik adalah ….
      1. 220 – 320 C
      2. 220 – 280 C
      3. 220 – 350 C
      4. 220 – 380 C
      5. 220 – 400 C
    9. Ambang suara yang dapat diterima oleh pendengaran manusia disebut dengan ….
      1. Decibel
      2. Desimeter
      3. Decimal
      4. Hertz
      5. Megahertz
    10. Ambang suara tertinggi yang dapat diterima oleh manusia disebut ….
      1. Ambang dengar
      2. Ambang sakit
      3. Ambang batas
      4. Ambang senyap
      5. Ambang suara
    11. Contoh decibel pada ambang sakit adalah ….
      1. Orang tidur
      2. Pesawat terbang
      3. Daun jatuh
      4. Kicau burung
      5. Orang ribut
    12. Di bawah ini adalah contoh gejala bursitis diantaranya ….
      1. Gatal
      2. Bengkak pada tempat cidera
      3. Bengkak bundar
      4. Merah ditangan
      5. Kaku pada jari – jarinya
    13. Di bawah ini yang merupakan badan PBB yang menangani bidang tenaga kerja adalah ….
      1. FAO
      2. UNESCO
      3. UNICEF
      4. UNTEA
      5. ILO
      6. Cidera yang umumnya terjadi karena tempat kerja yang tidak memenuhi persyaratan ergonomis adalah ….
        1. Bursitis
        2. Tendonitis
        3. Polusi udara
        4. Pestisida
        5. Jawaban a dan b benar
    14. Hal – hal penting yang perlu diingat dalam melakukan pengamatan kerja adalah ….
      1. Mengerti proses produksi dari awal sampai akhir
      2. Mengerti seluruh tahap kerja
      3. Mengidentifikasi bahaya yang mungkin timbul
      4. Mendokumentasikan semua pengamatan
      5. Semua jawaban benar

 

  1. B.     Jawablah dengan benar !
  2. Apakah kepanjangan dari K3LH dan apa ruang lingkup dalam mempelajari K3LH ?
  3. Jelaskan sikap duduk yang baik dalam prosedur K3LH serta gambarkan !
  4. Dalam wawancara terhadap pekerja, siapa sajakah urutan yang harus kita wawancarai ?
  5. Undang – undang yang mendasari pelaksanaan K3 di Indonesia adalah UU nomor berapa dan tahun berapa ?
  6. Ancaman bahaya apakah yang disebabkan oleh alat pelarut atau alat pembersih ?

Nilai Ulangan TKJ

DAFTAR NILAI ULANGAN
K3 LINGKUNGAN HIDUP
SMK PEMBANGUNAN MRANGGEN
TAHUN 2011

NO     NAMA                          KELAS        NILAI
1         Endri Purnawati       X TKJ         95
2        Indri Aprilia               X TKJ         95
3        Ismiyati                        X TKJ         98
4        Istikomah                    X TKJ         95
5        Nafi’ah                           X TKJ        93
6        Siti Munawaroh         X TKJ        95

Ulangan TKJ

SOAL ULANGAN MATA DIKLAT
KESEHATAN KESELAMATAN KERJA DAN LINGKUNGAN HIDUP
PRODUKTIF TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN
SMK PEMBANGUNAN MRANGGEN
TAHUN PELAJARAN 2011/2012

1. Apakah kepanjangan dari K3LH dan apa ruang lingkup dalam mempelajari K3LH !

2. Jelaskan sikap duduk yang baik dalam prosedur K3LH dan gambarkan posisinya !

3. Sebutkan 5 Undang – undang yang mendasari pelaksanaan K3 di indonesia !

4. Apakah yang dimaksud dengan :

a. Kifosis

b. Lordosis

c. Skeliosis

Serta sebutkan faktor penyebab dan penanggulangannya !

5. Apakah desibel itu dan gambarkan skalanya !

6. Badan PBB yang menangani bidang kesehatan adalah ….

7. Badan PBB yang menangani bidang tenaga kerja (buruh) adalah ….

8. Berapakah standar desibel untuk ruang kerja ?

Silahkan pilih 5 soal yang anda anggap mudah dan kerjakanlah sendiri.

Makalah Ulumul Qur’an

MAKALAH

M U H K A M   D A N   M U T A S Y A B I H

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ulumul Qur’an

Bpk. Kasmu’in, S.Ag, S.Pd

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

 

 

 

Al qur’an diturunkan kepada umat manusia oleh Allah SWT, Tuhan semesta alam untuk menjadi petunjuk bagi manusia dalam mengarungi samudera kehidupan. Di dalamnya terdapat berbagai macam petunjuk dari Allah baik yang tersurat maupun yang tersirat, yang baik dan yang buruk serta yang jelas juga yang samar. Dari hal itu juga akhirnya terjadi perbedaan penafsiran dan pendapat tentang makna dari ayat – ayat tersebut.

Perbedaan penafsiran dan penakwilan makna yang tersembunyi itulah yang akhirnya melahirkan dua kelompok ulama yang berbeda dengan pemahaman yang sangat berbeda. Yang pertama lebih bersifat klasik sedangkan yang kedua lebih bersifat kontemporer dalam menakwilkan ayat tersebut.

 

 

BAB 2

PERMASALAHAN

 

 

 

 

 

Allah SWT menurunkan al qur’an kepada umat manusia sebagai pedoman hidup umat manusia. Dalam kitab suci tersebut terdapat ayat – ayat yang langsung dapat kita ketahui maknanya atau yang bermakna tersurat. Ada juga ayat yang maknanya tersirat yang harus diteliti, dipahami, dikaji lebih dalam lagi sehingga baru diketahui makna dan maksudnya.

Dalam hal ayat yang tersirat ini, sering terjadi perbedaan pendapat antara ulama yang mengakibatkan pula  perbedaan penafsiran terhadap ayat tersebut. Perbedaan tersebut salah satunya disebabkan oleh berbedanya daya tangkap dan kepekaan setiap ulama mengenai makna ayat – ayat tersebut.


BAB 3

MUHKAM DAN MUTASYABIH

 

 

 

A. MUHKAM

Definisi Muhkam

Menurut etimologi muhkam artinya suatu ungkapan yang maksud makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah. Muhkam diambil dari kata ihkâm, artinya kekokohan, kesempurnaan. Bisa bermakna, menolak dari kerusakan. Muhkam adalah ayat-ayat yang (dalâlah) maksud petunjuknya jelas dan tegas, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dan kekeliruan pemahaman.[1]

Para ulama memberikan contoh ayat-ayat muhkam dalam al-Qur’an dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum. Seperti halal dan haram, kewajiban dan larangan, janji dan ancaman.

Contoh ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al Baqoroh : 183)

B. MUTASYABIH

Definisi

Mutasyabih adalah ayat-ayat yang makna lahirnya bukanlah yang dimaksudkannya. Mutasyabih diambil dari kata tasyâbaha – yatasyâbahu, artinya keserupaan dan kesamaan, terkadang menimbulkan kesamaran antara dua hal.[2]

Oleh karena itu, makna hakikinya dicoba dijelaskan dengan penakwilan. Bagi seorang muslim yang keimanannya kokoh, wajib mengimani dan tidak wajib mengamalkannya. Dan tidak ada yang mengetahui takwil ayat-ayat mutasyabihât melainkan Allah swt.

Contoh ayat – ayat mutasyabih

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ (٢٥٥)

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”.

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (٥)

“Yang Maha Pengasih, yang bersemanyam di atas ‘Arsy”.

Macam – macam ayat mutasyabih

Menurut Al Zarqani, ayat – ayat mutasyabihat dapat dibagi menjadi 3 jenis, antara lain :

1.       Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manusia, kecuali Allah SWT.

Contohnya :

Seperti Dzat Allah SWT, hakikat sifat-sifat-Nya, waktu datangnya hari kiamat, dan sebagainya.

Sebagai contoh ayatnya, Firman Allah :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ … الاية

Artinya :

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri …”

(QS. Al An’am : 59)

2.       Ayat-ayat yang mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang mendalam.

Contohnya, seperti merinci yang mujmal, menentukan yang musytarak, mengkayyidkan yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib, dan sebagainya.

Contoh ayatnya, Firman Allah :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ … الاية

Artinya :

Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi … “ (QS. An Nisa : 3)

3.       Ayat-ayat yang mutasyabihat yang hanya dapat diketahui oleh para pakar ilmu dan sain, bukan oleh semua orang, apalagi orang awam.

Hal-hal ini termasuk urusan-urusan yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang-orang yang rasikh (mendalam) ilmu pengetahuannya[3]

C. PERBEDAAN AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH

1.       Muhkam

a.       Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya

b.       Muhkam adalah ayat yang dapat diketahui secara langsung

c.       Muhkam ialah lafal yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat secara berdiri sendiri tanpa ditakwilkan karena susunan tertibnya tepat, dan tidak musykil, karena pengertiannya masuk akal, sehingga dapat diamalkan karena tidak dinasakh.

2.       Mutasyabih

a.       Mutasyabih hanya Allah-lah yang mengetahui akan maksudnya.

b.       Mutashabih baru dapat diketahui dengan memerlukan penjelasan ayat-ayat lain.

c.       Mutasyabih ialah lafal-Al-Quran yang artinya samar, sehingga tidak dapat dijangkau oleh akal manusia karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri sendiri karena susunan tertibnya kurang tepat sehingga menimbulkan kesulitan cukup diyakini adanya saja dan tidak perlu amalkan, karena merupakan ilmu yang hanya dimonopoli Allah SWT.

D. SIKAP ULAMA TERHADAP AYAT – AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIHAT

1.       Madzhab Salaf

Yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri (tafwidh ilallah). Mereka menyucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an. Di antara ulama yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Imam Malik yang berasal dari ulama mutaqaddimin.

2.       Madzhab Khalaf

Yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. Mereka umumnya berasal dari kalangan ulama muta’akhirin. [4]

E. HIKMAH AYAT MUHKAM

1.       Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya orang kemampuan bahasa Arabnya lemah. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang sudah jelas arti maksudnya, sangat besar arti dan faedahnya bagi mereka.

2.       Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga memudahkan bagi mereka dalam menghayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya.

3.       Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran, karena lafal ayat-ayatnya telah mudah diketahui, gampang dipahami, dan jelas pula untuk diamalkan.

4.       Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya, karena lafal ayat-ayat dengan sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak harus menuggu penafsiran atau penjelasan dari lafal ayat atau surah yang lain.

F. HIKMAH AYAT MUTASYABIH

1.       Memperlihatkan kelemahan akal manusia.

Akal sedang dicoba untuk meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah. Seandainya akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu tidak diuji, tentunya seseorang yang berpengetahuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya sehingga enggan tunduk kepada naluri kehambaannya. Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap Allah karena kesadaraannya akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu.

2.       Teguran bagi orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasybih.

Sebagaimana Allah menyebutkan wa ma yadzdzakkaru ila ulu al-albab sebagai cercaan terhadap orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasyabih. Sebaliknya Allah memberikan pujian bagi orang-orang yang mendalami ilmunya, yakni orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya untuk mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih sehingga mereka berkata rabbana la tuzighqulubana. Mereka menyadari keterbatasan akalnya dan mengharapkan ilmu ladunni

3.       Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia.

Sebesar apapun usaha dan persiapan manusia, masih ada kekurangan dan kelemahannya. Hal tersebut menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah SWT, dan kekuasaan ilmu-Nya yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

4.       Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran, ketinggian mutu sastra dan balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah buatan manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan Allah SWT.

5.       Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam.

 

BAB 4

PENUTUP

 

 

 

 

 

A. KESIMPULAN

Allah SWT telah menurunkan al qur’an dengan segala kesempurnaannya. Di dalamnya terdapat ayat – ayat yang jelas maknanya dan dapat langsung dimengerti oleh manusia (Muhkam) maupun ayat – ayat yang maknanya baru bisa diketahui melalui proses pengkajian dan takwil terlebih dahulu (Mutasyabih).

Dengan adanya ayat mutasyabih ini menunjukkan betapa lemahnya akal manusia. Karena Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap Allah karena kesadaraannya akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu.

Perbedaan pendapat mengenai penafsiran makna yang tersirat dalam al qur’an menunjukkan bukti bahwa al qur’an benar – benar wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT.

B. SARAN

Demikian sekedar apa yang kami ketahui tentang muhkam dan mutasyabih yang dapat kami bagi kepada para pembaca yang budiman. Segala sumbang saran yang membangun kami nantikan demi sempurnanya makalah yang sederhana ini.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Buku

Departemen Agama. 1993. Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Surya Cipta Aksara

Abdul Wahid, Amri. 2002.Ulumul Qur’an, Edisi Revisi. Medan: Rajawali Press

 

 

Makalah

Sulaiman, Hanny, 2010. Sekelumit tentang muhkam dan mutasyabih. –


[1] Sulaiman, Hanny, Sekelumit tentang muhkam dan mutasyabih, Bandung, hlm 1

[2] Sulaiman, Hanny, Ibid, hlm 1

[3] Abdul Wahid, Ramli,  Ulumul Qur’an, Medan, hlm 109 – 111

[4] Abdul Wahid, Ramli, Ibid, hlm 113

Makalah Ulumul Hadits

MAKALAH

PENGERTIAN DAN SEJARAH ILMU HADITS

SERTA PERKEMBANGAN ILMU HADITS

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ulumul Hadits

Bpk. Iman Fadhilah, M.Si

Di susun oleh :

1.     Ahmad Taqiyudin

2.     Zaenal Abidin

3.     Rozikun

4.     Iffatul Lathifatil Anisah

5.     Durotun Nasihah

PENGERTIAN DAN SEJARAH ILMU HADITS

SERTA PERKEMBANGAN ILMU HADITS

A. Pendahuluan

Tak dapat dipungkiri, hadits merupakan salah satu dari sumber hukum islam kedua setelah al qur’an yang kita gunakan selama ini. Dalam perjalanannya, hadits disusun dan diolah melalui disiplin ilmu tertentu yang disebut dengan ulumul hadits.

Banyak juga ulama yang mempelopori dan mengembangkan ilmu ini sebagai acuan dalam menyusun dan menyempurnakan pengklasifikasian hadits sebagai pedoman hukum umat islam setelah al qur’an. Salah satunya Al Bukhary yang menyusun kitab riwayat ringkas para sahabat.

B. Rumusan Masalah

Kebanyakan dari kita hanya mengetahui hadits diriwayatkan, dibaca dan hanya dikaji saja. Namun kita belum pernah mengetahui sejarah dan apa sajakah ilmu – ilmu hadits itu. Baik pengertian (definisi), ulama yang mempelopori, dan kegunaan serta peran dari ilmu itu sendiri.

Berangkat dari hal tersebut diatas, semoga dengan makalah yang sederhana ini dapat menambah sedikit pengetahuan kita tentang pengertian dan sejarah ilmu hadits serta perkembangannya.

C. Pembahasan

1.      Pengertian ilmu hadits dan pembagiannya

Ilmu hadits menurut Prof. Dr. T.M Hasbi Ash Shiddieqy adalah ilmu yang berkaitan dengan hadist[1]. Ilmu hadits dapat dibagi menjadi 2 bagian :

a.       Hadits Riwayah

Menurut bahasa riwayah berasal dari kata rawa-yarwi-riwayatan yang berarti annaql = memindahkan dan penukilan.

Sedangkan ilmu hadits riwayah menurut istilah sebagaimana pendapat Dr. Subhi Asshalih adalah :

” ilmu hadits riwayah adalah ilmu yang mempelajari tentang periwayatan secara teliti dan berhati-hati bagi segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan dan sifat serta segala segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabiin ” (Subhi Asshalih, Ulumul Hadits…hal. 107)

Adapun menurut sebagian ulama adalah :

عِلْمُ الْحَدِيْثُ رِوَايَةَ : عِلْمُ يُبْحَثُ فِيْهِ عَنْ كَيْفِيَّةِ ِاتِّصَالِ الْحَدِيْثِ باِلرَّسُوْلِ ص.م مِنْ حَيْثُ اَحْوَالِ رُوَاتِهِ ضَبْطًا وَعَدَالَةً وَمِنْ حَيْثُ كَيْفِيَّةِ السَّنَدِ اِتِّصَالاً وَانْقِطَاعًا وَنَحْوَ ذَلِكَ.

Artinya :

“Ilmu hadits riwayah ialah ilmu yang membahas cara kelakuan persambungan hadits kepada shohibur risalah, junjungan kita Muhammad SAW dari sikap para perowinya, mengenai kekuatan hafalan dan keadilan mereka, dan dari segi keadaan sanad, putus dan kesambungannya dan yang sepertinya.”[2]

Pendiri Ilmu Hadits Riwayah adalah Muhammad bin Syihab Azzuhri (w. 124 H). Obyek dari hadits riwayah ini adalah pribadi Nabi Muhammad SAW yaitu, perkataan, perbuatan, taqrir dan sifatnya.

b.      Hadits Dirayah

Ilmu Hadits Dirayah, menurut bahasa dirayah berasal dari kata dara-yadri-daryan yang berarti pengetahuan. Maka seringkali kita mendengar Ilmu Hadits Dirayah Disebut-sebut sebagai pengetahuan tentang ilmu Hadits atau pengantar ilmu hadits.

Menurut imam Assyuthi, Ilmu Hadits Dirayah adalah ” ilmu yang mempelajari tentang hakikat periwayatan, syarat-syaratnya, macam-macamnya dan hukum-hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, macam-macam periwayatan, dan hal-hal yang berkaitan dengannya”.

Adapun menurut sebagian ulama, hadits diroyah adalah :

عِلْمٌ الْحَدِيْثِ دِرَايَةً : عِلْمُ يُبْحَثُ فِيْهِ عَنِ الْمَعْنَى الْمَفْهُوْمِ مِنْ اَلْفَاظِ الْحَدِيْثِ وَالْمُرَادِ مِنْهَا مَبْنِيًّا عَلَى قَوَاِعدِ الُّلغَةِ الْعَرَبِيَّةِ وَضَوَابِطِ الشَّرِيْعَةِ وَمُطَابِقًا ِلاَحْوَلِ النَّبِيِّ ص.م.

Artinya :

“Ilmu hadits diroyah adalah ilmu yang membahas makna – makna yang difahamkan dari lafal – lafal hadits yang dikehendaki dari sesuatu lafal dan kalimat dengan bersandar kepada aturan – aturan (kaidah – kaidah) bahasa arab dan kaidah – kaidah agama dan sesuai dengan keadaan Nabi SAW.”[3]

Ilmu Hadits Dirayah kajiannya pada pengetahuan hadits apakah telah memenuhi persyaratan sebagai hadits yang diterima atau ditolak.

Ilmu Hadits Dirayah dikenal juga dengan istilah Ulumul Hadits, Ushul Hadits, Ushul Arriwayah dan Musthalah Hadits. Namun, masing-masing nama tersebut mempunyai Filsafat makna yang berkaitan.

Pendiri Ilmu Hadits Dirayah adalah Al-Qadhi Abu Muhammad Al-Hasan bin Abdurahman bin Khalad Ramahumuzi (w.360 H).

Obyek dari ilmu hadits diroyah adalah mengetahui segala yang berpautan dengan pribadi nabi, agar kita dapat mengetahuinya dan memperoleh kemenagan dunia akhirat.

2.      Sejarah ilmu hadits

Orang yang melakukan kajian secara mendalam mendapati bahwa dasar-dasar dan pokok-pokok penting bagi ilmu riwayah dan menyampaikan bertita dijumpai didalam Al Quran dan Sunnah Nabi. Allah Swt berfirman :

يآأيهاالذين أمنوا إن جآءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين

Artinya : “Hai oarang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti” (Qs Al Hujrat 6)

Sedangkan didalam sunnah Rasulullah Saw:

Artinya : “Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu berita, yaitu hadist lalu ia menyampaikan berita itu sebagaimana yang didengar dan mungkin saja orang yang menerima berita itu lebih faham dari orang yang mendengar. (H.r At Tirmidzy)

Dalam uapaya melaksanakan perintah Allah dan Rasul nya para sahabat telah menetapkan hal-hal yang menyangkut penyampaian suatu berita dan penerimaannya, terutama jika mereka meragukan kejujuran si pembawa berita . berdasarkan hal itu, tampak nilai dan pembahasan mengenai isnad dalam menerima dan menolak suatu berita.

Didalam pendahuluan kitab Shahih Muslim, dituturkan dari Ibnu Sirin, “dikatakan, pada awalnya mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad, namun setelah terjadi peristiwa fitnah maka mereka berkata, “sebutkanlah pada kami orang-orang yang meriwayatkan hadist kepadamu”.

Apabila orang-orang yang meriwayatkan hadist itu adalah ahlu sunnah, maka mereka ambil hadistnya . jika orang-orang yang meriwayatkan hadistitu adalah ahli bidah maka mereka tidak mengambilnya.

Berdasarkan hal ini, maka suatau berita tidak bisa diterima kecuali setelah diketahui sanadnya. Karena itu muncullah ilmu jarah wa ta’dil, ilmu mengenai ucapan para perawi, cara untuk mengetahui bersambung (Muttasil) atau terputus (munqati)-nya sanad, mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. Mmuncul pula ucapan-ucapan sebagai tambahan dari hadist sebagian perawi meskipun sangat sedikit karena masih sedikitnya para perawi yang tercela pada masa-masa awal. Kemudian para ulama dalam bidang itu semakin banyak, sehinggga muncul berbagai pembahasaan didalam banayak cabang ilmu yang terkait denag hadist, baik dari aspek kedhabitannya, tata cara menerima dan menyampaikannnya, pengetahuan tentang hadist-hadist yang nasikh dari hadist-hadist yang mansukh dll. Semua itu masih disampaikan ulama secara lisan

Lalu masalah itu pun semakin berkembang lam kelamaan ilmu hadist ini mulai ditulis dan dibukukan, akan tetapi masih terserap diberbagai tempat didalam kitab-kitab lain yang bercampur dengan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu ushul fiqih dan ilmu hadist contohnya ilmu Ar Risalah dan Al Umm Imam Syafi’I.

Ilmu hadist mengalami perkembangan yang sanagat luart biasa pada awal abad ke tiga hijriyyah. Hanya saja, perkembangan itu masih berkutat pada upaya mengatahui yang bisa diterima dan ditolak karenanya pembahasan seputar periwayatan dan hadist yang diriwayatkan. Menurut sejarah ulama yang pertama-tama menghimpun ilmu hadist riwayat adalah Muhammad Ibnu Shihab Al Juhri atas perintah dari khalifah Umar bin Abdul Aziz. Al Zuhri adalah salah satu seorang tabiin kecil yang banayak mendengar hadist dari para sahabat dan tabi’in besar.

Sedangkan ilmu hadist dirayah sejak pertengahan abad kedua Hijriyyah telah dibahas oleh para ulama hadist, tetapi belum dalam bentuk kitab khusus dan belum merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Pada masa Al Qadhi Ibnu Muhammad Al Ramahurmudzi (265-360 H), barulah kemudian dibukukan dalam kitab khusus yang dijadikan sebagai disiplin ilmu yang berdidri sendiri.

Setelah itu barulah diikuti oleh ulama-ulama berikutnya seperti Al Hakim Abdul Al Naysaburi dll. Pada masa ulama konten porer ilmu hadist dirayah dinamakan dengan Ulumul Hadist dan pada masa terakhir ini lebih mashur. Akhirnya ilmu-ilmu itu semakin matang , mencapai puncaknya dan memiliki istilah sendiri yang terpisah dengan ilmu-ilmu lainnya. Hal ini terjadi pada abad ke empat Hijriyyah para ulama menyusun ilmu msthalah dalam kitab tersendiri, orang yang pertama menyusun kitab ini adalah Qadli Abu Al Fasih Baina Ar Rawi wa Al-wa’i.[4]

3.      Cabang – cabang ilmu hadits

Cabang-cabang ilmu hadsit dikelompokan menjadi beberapa hal sebagai berikut :

1.   Ilmu Rijal Al Hadist

Ilmu untuk mengetahui para perawi hadist dalam kapasitas mereka sebagai perawi hadist ilmu ini sangat penting kedudukannya dalam bidang ilmu hadist, karena pada saat ini ada dua yaitu matan dan sanad. Ilmu Rijal Al Hadist memberikan pengertian kepada persoalan khusus persoalan seputar sanad

2.   Ilmu Al Jarah wa Ta’dil

Ilmu yang membahas kecacatan rawi, seperti keadilan dan kedhabitannya. Sehingga dapat ditentukan siapa diantara perawi itu yang dapat diterima atau ditolak hadsit yang diriwayatkannya. Ilmu jarah wa ta’dil ini dikelompokan oleh sebagian ulama kedalam ilmu hadist yang pokok pembahasannya berpangkal kepada sanad dan matan

3.   Ilmu Tarikh Ruwat

Ilmu untuk mengetahui para pwrawi hadist yangberkaitan dengan usaha periwayatan mereka terhadap hadist. Ilmu ini mengkhususkan pembahasannya secara mendalam pada aspek kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan

4.   Ilmu Ilalil Hadist

Ilmu yang membahas sebab-sebab yang tersembunyi yang mencacatkan keshahihan hadist, seperti mengatakan muttasil terhadap hadist munqati menyebat hadist marfu kepada hadsit mauquf.

5.   Ilmu Nasikh wa Mansukh

Ilmu yang membahas hadist-hadist yang berlawanan yang tidak dapat dipertemukan dengan cara menentukan sebagiannya sebagai nasikh dan sebagian lainnya sebagai mansukh, bahwa yang datang terdahulu disebut Mansukh dan yang datang dinamakan nasikh.

6.   Ilmu Asbabi Wurudil Hadis

Ilmu yang menerangkan sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya nabi menuturkan itu. Ulama yang mula-mula meyusun kitab ini adalah Abu Hafash Umar ibnu Muhammad Ibnu Rajak Al Ukbary, dari murid Ahmad

7.   Ilmu Ghraib Al Hadist

Ilmu untuk mengetahui dan menerangkan makna yang terdapat pada lafad-lafad hadist yang jauh dan sulit dipahami, karena lapad-lapd tersebutjarang digunakan.

Sesudah berlalu masa sahabat, yakni abad pertama dan para tabi’in pada tahun 150 H. mulailah bahasa arab yang tinggi tidak diketahui lagi umum. Satu-satu orang saja lago yang mengetahuinya. Oleh karena itu, berusahalah para ahli mengumpul kata-kata yang dipandang tidak dapat dipahamkan oleh umum dan kata-kata yang kurang terpakai dalam pergaulan sehari-hari dalam sesuatu kitab dan mengsarahkannya.

8.   Ilmu Al Tashif

Ilmu pengetahuan yang berusaha menanamkan tentang hadist-hadist yang sudah diubah titik atau sakalnya atau bentuknya.

9.   Ilmu Muktalif Al Hadist

Ilmu yang membahas hadist-hadist yang menurut lainnya bertentangan atau berlawanan, kemudian ia menghilangkan pertentangan tersebut atau mengompromi-kan antara keduanya, sebagaimana juga ia membahas tentang hadist-hadist yang sulit difahami isi atau kandungannya dengan cara menghilangkan kemusykilan atau kesulitannya serta menjelaska hakikatnya

10. Ilmu Talfiqiel Hadist

Ilmu yang membahaskan tentang cara mengumpulkan antara hadist-hadist yang berlawanan lahirnya

Dikumpulkan itu adakalanya dengan mentahkhisiskan yang Am atau mentaqyidkan yang mutlak atau dengan memandang banyak kali terjadi.

Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadist diantara para ulama besar yang telah berusaha menuyusun ilmu ini ialah Al Imamusy Syafi’i, Ibnu Qutaibah, Ibnul Jauzy kitabnya bernama At Tahqiq sudah disarahkan oleh Ustad Ahmad Muhammad Syakir[5]

D. Kesimpulan

Hadits sebagai sumber hukum kedua umat islam telah disusun sedemikian rupa oleh ulama – ulama terdahulu dengan displin ilmu yang sesuai dengan perannya masing – masing. Dengan adanya ilmu tersebut, kita dapat mempelajari dan lebih mudah memahami hadits serta dapat menggunakan hadits dengan lebih maksimal sebagai sumber hukum.

E. Penutup

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat taufiq hidayah dan inayah Nya sehingga makalah sederhana ini dapat terselesaikan dengan baik. Penyusun berharap semoga makalah ini dapt bermanfaat bagi pembaca yang budiman. Sebagai penyusun, kami juga menanti saran dan kritik yang membangun demi lebih sempurnanya makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Departemen Agama. 1993. Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Surya Cipta Aksara

Ash Shiddieqy, Hasbi TM. 1999. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra

Makalah

Zakaria, Ikbal. 2009. Sejarah Ilmu Hadits. Jakarta: –


[1] Ikbal Zakaria, Sejarah Ilmu Hadits, Jakarta, hlm 1

[2] TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Semarang, PT Pustaka Rizki Putra. 1999. hlm128

[3] Ibid. hlm 129

[4] Ikbal Zakaria, Ibid. hlm 4

[5] TM. Hasbi Ash Ahiddieqy, Ibid. hlm 131