Just another WordPress.com site

Makalah Ulumul Qur’an

MAKALAH

M U H K A M   D A N   M U T A S Y A B I H

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ulumul Qur’an

Bpk. Kasmu’in, S.Ag, S.Pd

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

 

 

 

Al qur’an diturunkan kepada umat manusia oleh Allah SWT, Tuhan semesta alam untuk menjadi petunjuk bagi manusia dalam mengarungi samudera kehidupan. Di dalamnya terdapat berbagai macam petunjuk dari Allah baik yang tersurat maupun yang tersirat, yang baik dan yang buruk serta yang jelas juga yang samar. Dari hal itu juga akhirnya terjadi perbedaan penafsiran dan pendapat tentang makna dari ayat – ayat tersebut.

Perbedaan penafsiran dan penakwilan makna yang tersembunyi itulah yang akhirnya melahirkan dua kelompok ulama yang berbeda dengan pemahaman yang sangat berbeda. Yang pertama lebih bersifat klasik sedangkan yang kedua lebih bersifat kontemporer dalam menakwilkan ayat tersebut.

 

 

BAB 2

PERMASALAHAN

 

 

 

 

 

Allah SWT menurunkan al qur’an kepada umat manusia sebagai pedoman hidup umat manusia. Dalam kitab suci tersebut terdapat ayat – ayat yang langsung dapat kita ketahui maknanya atau yang bermakna tersurat. Ada juga ayat yang maknanya tersirat yang harus diteliti, dipahami, dikaji lebih dalam lagi sehingga baru diketahui makna dan maksudnya.

Dalam hal ayat yang tersirat ini, sering terjadi perbedaan pendapat antara ulama yang mengakibatkan pula  perbedaan penafsiran terhadap ayat tersebut. Perbedaan tersebut salah satunya disebabkan oleh berbedanya daya tangkap dan kepekaan setiap ulama mengenai makna ayat – ayat tersebut.


BAB 3

MUHKAM DAN MUTASYABIH

 

 

 

A. MUHKAM

Definisi Muhkam

Menurut etimologi muhkam artinya suatu ungkapan yang maksud makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah. Muhkam diambil dari kata ihkâm, artinya kekokohan, kesempurnaan. Bisa bermakna, menolak dari kerusakan. Muhkam adalah ayat-ayat yang (dalâlah) maksud petunjuknya jelas dan tegas, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dan kekeliruan pemahaman.[1]

Para ulama memberikan contoh ayat-ayat muhkam dalam al-Qur’an dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum. Seperti halal dan haram, kewajiban dan larangan, janji dan ancaman.

Contoh ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al Baqoroh : 183)

B. MUTASYABIH

Definisi

Mutasyabih adalah ayat-ayat yang makna lahirnya bukanlah yang dimaksudkannya. Mutasyabih diambil dari kata tasyâbaha – yatasyâbahu, artinya keserupaan dan kesamaan, terkadang menimbulkan kesamaran antara dua hal.[2]

Oleh karena itu, makna hakikinya dicoba dijelaskan dengan penakwilan. Bagi seorang muslim yang keimanannya kokoh, wajib mengimani dan tidak wajib mengamalkannya. Dan tidak ada yang mengetahui takwil ayat-ayat mutasyabihât melainkan Allah swt.

Contoh ayat – ayat mutasyabih

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ (٢٥٥)

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”.

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (٥)

“Yang Maha Pengasih, yang bersemanyam di atas ‘Arsy”.

Macam – macam ayat mutasyabih

Menurut Al Zarqani, ayat – ayat mutasyabihat dapat dibagi menjadi 3 jenis, antara lain :

1.       Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manusia, kecuali Allah SWT.

Contohnya :

Seperti Dzat Allah SWT, hakikat sifat-sifat-Nya, waktu datangnya hari kiamat, dan sebagainya.

Sebagai contoh ayatnya, Firman Allah :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ … الاية

Artinya :

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri …”

(QS. Al An’am : 59)

2.       Ayat-ayat yang mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang mendalam.

Contohnya, seperti merinci yang mujmal, menentukan yang musytarak, mengkayyidkan yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib, dan sebagainya.

Contoh ayatnya, Firman Allah :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ … الاية

Artinya :

Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi … “ (QS. An Nisa : 3)

3.       Ayat-ayat yang mutasyabihat yang hanya dapat diketahui oleh para pakar ilmu dan sain, bukan oleh semua orang, apalagi orang awam.

Hal-hal ini termasuk urusan-urusan yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang-orang yang rasikh (mendalam) ilmu pengetahuannya[3]

C. PERBEDAAN AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH

1.       Muhkam

a.       Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya

b.       Muhkam adalah ayat yang dapat diketahui secara langsung

c.       Muhkam ialah lafal yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat secara berdiri sendiri tanpa ditakwilkan karena susunan tertibnya tepat, dan tidak musykil, karena pengertiannya masuk akal, sehingga dapat diamalkan karena tidak dinasakh.

2.       Mutasyabih

a.       Mutasyabih hanya Allah-lah yang mengetahui akan maksudnya.

b.       Mutashabih baru dapat diketahui dengan memerlukan penjelasan ayat-ayat lain.

c.       Mutasyabih ialah lafal-Al-Quran yang artinya samar, sehingga tidak dapat dijangkau oleh akal manusia karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri sendiri karena susunan tertibnya kurang tepat sehingga menimbulkan kesulitan cukup diyakini adanya saja dan tidak perlu amalkan, karena merupakan ilmu yang hanya dimonopoli Allah SWT.

D. SIKAP ULAMA TERHADAP AYAT – AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIHAT

1.       Madzhab Salaf

Yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri (tafwidh ilallah). Mereka menyucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an. Di antara ulama yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Imam Malik yang berasal dari ulama mutaqaddimin.

2.       Madzhab Khalaf

Yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. Mereka umumnya berasal dari kalangan ulama muta’akhirin. [4]

E. HIKMAH AYAT MUHKAM

1.       Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya orang kemampuan bahasa Arabnya lemah. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang sudah jelas arti maksudnya, sangat besar arti dan faedahnya bagi mereka.

2.       Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga memudahkan bagi mereka dalam menghayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya.

3.       Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran, karena lafal ayat-ayatnya telah mudah diketahui, gampang dipahami, dan jelas pula untuk diamalkan.

4.       Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya, karena lafal ayat-ayat dengan sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak harus menuggu penafsiran atau penjelasan dari lafal ayat atau surah yang lain.

F. HIKMAH AYAT MUTASYABIH

1.       Memperlihatkan kelemahan akal manusia.

Akal sedang dicoba untuk meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah. Seandainya akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu tidak diuji, tentunya seseorang yang berpengetahuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya sehingga enggan tunduk kepada naluri kehambaannya. Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap Allah karena kesadaraannya akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu.

2.       Teguran bagi orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasybih.

Sebagaimana Allah menyebutkan wa ma yadzdzakkaru ila ulu al-albab sebagai cercaan terhadap orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasyabih. Sebaliknya Allah memberikan pujian bagi orang-orang yang mendalami ilmunya, yakni orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya untuk mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih sehingga mereka berkata rabbana la tuzighqulubana. Mereka menyadari keterbatasan akalnya dan mengharapkan ilmu ladunni

3.       Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia.

Sebesar apapun usaha dan persiapan manusia, masih ada kekurangan dan kelemahannya. Hal tersebut menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah SWT, dan kekuasaan ilmu-Nya yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

4.       Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran, ketinggian mutu sastra dan balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah buatan manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan Allah SWT.

5.       Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam.

 

BAB 4

PENUTUP

 

 

 

 

 

A. KESIMPULAN

Allah SWT telah menurunkan al qur’an dengan segala kesempurnaannya. Di dalamnya terdapat ayat – ayat yang jelas maknanya dan dapat langsung dimengerti oleh manusia (Muhkam) maupun ayat – ayat yang maknanya baru bisa diketahui melalui proses pengkajian dan takwil terlebih dahulu (Mutasyabih).

Dengan adanya ayat mutasyabih ini menunjukkan betapa lemahnya akal manusia. Karena Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap Allah karena kesadaraannya akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu.

Perbedaan pendapat mengenai penafsiran makna yang tersirat dalam al qur’an menunjukkan bukti bahwa al qur’an benar – benar wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT.

B. SARAN

Demikian sekedar apa yang kami ketahui tentang muhkam dan mutasyabih yang dapat kami bagi kepada para pembaca yang budiman. Segala sumbang saran yang membangun kami nantikan demi sempurnanya makalah yang sederhana ini.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Buku

Departemen Agama. 1993. Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Surya Cipta Aksara

Abdul Wahid, Amri. 2002.Ulumul Qur’an, Edisi Revisi. Medan: Rajawali Press

 

 

Makalah

Sulaiman, Hanny, 2010. Sekelumit tentang muhkam dan mutasyabih. –


[1] Sulaiman, Hanny, Sekelumit tentang muhkam dan mutasyabih, Bandung, hlm 1

[2] Sulaiman, Hanny, Ibid, hlm 1

[3] Abdul Wahid, Ramli,  Ulumul Qur’an, Medan, hlm 109 – 111

[4] Abdul Wahid, Ramli, Ibid, hlm 113

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s